Kenapa Orang Korea Jarang Makan Sendiri? Ini Tradisi dan Kebiasaan Kuliner Uniknya

Jakarta – Seoul! Korea Selatan tak hanya dikenal sebagai pusat budaya populer, tetapi juga kota dengan tradisi kuliner yang kuat. Tradisi ini berakal pada kehidupan sehari-hari warganya.

Makanan di ibu kota Korea Selatan ini mencerminkan nilai budaya, kenbiasaan sosial, hingga cara masyarakat memandang kebersamaan. dari menu makanan sederhana,

pola makan yang berbeda, hingga kebiasaan menyantap hidangan secara bersama-sama, kuliner menjadi bagian penting dalam ritme-hidup kota seoul.

Baca Juga: Kuliner Terites Khas Suku Karo, Kuliner Unik yang Bikin Penasaran

Beragam tradisi makan tersebut masih dijaga di tengah modernisasi Seoul yang bergerak cepat, inilah sejumlah tradisi kuliner khas yang membuat pengalaman bersantap di Seoul istimewa, dilansir dari Induge express.

1.. Ratusan Jenis Kimchi

Bagi banyak wisatawan, kimchi seiring dipersiapkan sebagai sawi putih jelas pedas pendamping nasi. Padahal di Seoul, kimchi merupakan resprentasi bduaya yang jauh lebih luas.

Terdapat ratusan jenis kimchi yang dibuat dari bahan, musiman, dan teknik fermentasi berbeda, mulai dari  kimchi mentimun yang segar hingga kimchi lobak difermentasi berbulan-bulan. Setiap keluarga memiliki resep khas yang diwariskan turun-temurun.

Tradisi membuat kimchi secara bersama-sama pada musim gugur, yang dikenal sebagai kinjang, bahkan diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda.

2. Sarapan Nasi dan Aneka Lauk

Konsep sarapan di Kota Seoul sering mengejutkan pendatang baru dan wisatawan di sana, Tidak ada roti panggang atau sereal khas sarapan Barat yang praktis. Sebaiknya, sarapan disajikan lengkap dengan nasi, sup hangat, dan berbagai lauk pendamping seperti makan siang atau malam.

Filosfinya sederhana, tubuh membutuhkan asupan yang cukups sejak pagi. Semangkuk sup rumput laut atau dibenjang jigae dipercaya memberi energi dan ketenangan sebelum beraktivitas.

Tidak ada pembagian pasti terkait menu yang disajikan saat sarapan atau makan malam dalam budaya Korea. Pola makan ini mencerminkan keseimbangan nutrisi dan gizi seimbang.

3. Jajanan Kaki Lima Beragam di Seoul

Street Food atau jajanan kaki lima di Kota Seoul bukan sekedar cemilan saja, melainkan hasil kesiapan para penjual makanan yang diasah puluhan tahun. Banyak pedagang makanan di Seoul yang hanya menjual satu jenis makanan, seperti tethoboki atau hotteo dan bertahan selama puluhan tahun.

Di pasar-pasar tradisional yang sudah legendaris, antrean panjang di satu kedai makan bukan karena tren sesaat, tetapi karena kepercayaan pelanggan sesaat, tetapi karena kepercayaan pelanggan pada penjual makanan. Setiap kios memiliki karakter rasa tersendiri yang dikenal pengunjungnya.

Rata-rata penjual makanan kaki lima di sana menyajikan dagangan mereka dengan piring kertas  dan bangku plastik yang menjadi ciri khas tersendiri.

4. Budaya Makan Bersama Sangat Penting

Di Seoul, orang-orang makan sendirian. Kebanyakan hidangan dibaut dalam porsi besar dan disajikan untuk disantap bersama.

Dalam bahasa Korea bahkan memil8iki silsilah shik-gu bererati tradisi keluarga dan makan bersama. Pertanyaan.”Sudah Makan?”bukan basa-basi orang Korea, melainkan ungkapan perhatian atau bentuk rasa kasih sayang.

5. Makanan Sebagai Cerminan Kehidupan Kota Seoul

Kuliner di Seoul mencerminkan cara hidup masyarakatnya. Di tengah ritme kota yang cepat dan modern, kegiatan makan tetap menjadi momen penting untuk berhenti sejenak dan berkumpul.

Beragam hidangan, mulai dari daging panggang Korean BBQ yang disantap bersama hingga modern.

Pola makan ini juga memperlihatkan kesinambungan antar generasi. di mana resep dan kebiasaan makan diwariskan dari masa ke masa.